Tanggal 6 April 2016 kemarin, Huawei meluncurkan smartphone flagship terbarunya yaitu Huawei P9 dan P9 Plus di London, Inggris. Kebetulan saat ini saya berada di Inggris. Namun saya tidak ke acara launchingnya karena ongkos kereta ke London cukup mahal (diundang juga kagak sob). Ada beberapa hal menarik yang saya temukan dari acara launching tersebut, mari kita bahas satu per satu sob.

huawei-p9-plus-launched

Mulai “Caper”nya Huawei di Industri Smartphone Dunia

Sebenarnya Huawei sudah mulai “Caper” alias cari perhatian sejak dari tahun lalu melalui program Nexus bersama Google. Buat sobat yang kurang gaul, Nexus adalah seri perangkat android yang dikembangkan oleh Google bersama dengan beberapa mitra perangkat seluler lainnya. Sebelumnya program Nexus sempat berjalan bersama dengan HTC, Samsung, ASUS, dan LG. Akhirnya tahun lalu Huawei mencoba peruntungan untuk pertama kalinya dengan program Nexus ini. Lahirlah Nexus 6P (yg ngga dateng ke Indonesia, kecian deh)

Nexus 6P

Melihat data penjualannya memang tidak akan melampai raksasa smartphone Samsung. Karena memang Nexus diciptakan bukan untuk menjadi smartphone super laku, melainkan untuk menunjukkan kemampuan maksimal dari Operating Systemnya yaitu Android. Namun, Huawei Nexus 6P adalah smartphone Nexus pertama yang memberikan kesan premium dan bisa disejajarkan dengan smartphone flagship lainnya (bahkan lebih baik). Memiliki desain anggun, performa baik dan hasil kamera yang menawan menjadikan smartphone ini menjadi smartphone Nexus terbaik yang pernah ada (untuk saat ini)

Mengambil “Bendera” Lawan

Bagaimana cara terbaik untuk menyakiti hati mantan? caranya adalah dengan menunjukkan kalau kamu sudah move on. Mau lebih nyakitin lagi? ambillah pacarnya untuk menjadi pacarmu (eee… gitu ngga sih?) Hal ini lah yang dilakukan Huawei terhadap Samsung, sang pemimpin pasar smartphone saat ini. Mengambil (salah satu) brand ambassadornya, yaitu Lionel Messi.

Lionel-messi-Huawei

Messi dikontrak Huawei selama 2 tahun dengan nilai yang diperkirakan mencapai 6,7 juta dollar per tahun. Itu sama saja dengan 88 Milyar gemblong Ibu Juju. Banyak banget kan sob? Muka gantengnya sudah digunakan untuk mempromosikan smartphone flagship Huawei sebelumnya yaitu Huawei Mate 8. Smartphone ini muncul di Indonesia dengan nama berbeda. Silahkan cek klo penasaran http://ho.lazada.co.id/SHG8gK

It’s Showtime

Serangkaian usaha tersebut nampaknya berlanjut kepada flagship yang baru-baru ini mereka luncurkan yaitu Huawei P9 dan P9 Plus. Ada begitu banyak hal yang (menurut saya) “benar” dari perangkat yang satu ini. Mulai dari desain yang memukau, kamera paralel dua biji, hingga pilihan layar yang masih di FullHD. Tidak seperti pabrikan lain yang begitu gencarnya menyisipkan layar 2K bahkan 4K ke smartphone andalan mereka.

Huawei P9 (1)

Desain Yang Semakin Matang

Desain dari Huawei P9 ini memang cukup mirip dengan Huawei Nexus 6P. Berbahan metal unibody dengan kaca di bagian belakang atasnya. Bukan berarti tidak bagus, karena sedari awal desain Nexus 6P sudah cukup cantik. Di Huawei P9 ini kecantikannya seakan di makeover dengan bodi yang lebih ramping dan bodi aluminium bergaris. Katanya sih ergonomis di tangan dan lain2nya itulah. But, I don’t buy it (yet). Walau dari gambar rendernya aja udah cukup membuat saya deg-deg an.

Huawei P9 (5)

 

Memiliki ketebalan hingga 6.95mm memang belum bisa jadi smartphone paling tipis di dunia. Namun, bisa lebih ramping 0.95mm dari Samsung Galaxy S7 atau 0.15mm dari iPhone 6s bisa dianggap prestasi lah ya… (Atau setidaknya Huawei berfikir seperti itu). Apakah lebih ramping lebih baik? Sejujurnya kalau saya tidak pernah punya pemikiran seperti itu. Lihat saja badan saya, ngga bisa dibilang ramping. *curcol. Tapi usaha untuk merampingkan ukuran dari suatu teknologi menurut saya perlu mendapatkan apresiasi.

Huawei P9(3)

Meski memiliki dimensi yang lebih tipis, kamera dari Huawei P9 ini tidak menonjol keluar seperti Samsung Galaxy S7 dan iPhone 6s. Sehingga memberikan kesan bersih dan juga membuat smartphone ini akan berbaring rata di meja. Menurut saya, hal ini menunjukkan usaha Huawei yang ingin lebih baik dari para pesaing, tanpa mengorbankan apapun.

CfXL35nWEAIMaeg

Serangkaian kelebihan dari sisi desain inilah yang seakan memberi tahu saya bahwa Huawei semakin matang untuk berinovasi di bagian desain.

Layar yang “masih” FullHD

Saya setuju jika layar 2K di smartphone terasa lebih cantik dari FullHD. Saya setuju jika dengan pernyataan “More Pixel = More Fun”. Tapi apakah kita butuh piksel serapat itu di sebuah smartphone? Ya, semua kembali kepada sobat. Tapi tentu sobat tahu bahwa semakin banyak piksel, maka semakin banyak tenaga yang dibutuhkan untuk menyalakan layar tersebut. Untuk saya resolusi FullHD di layar berbentang 5,2 inch masih akan terasa nyaman karena memiliki kerapatan piksel sebesar 420ppi.

Huawei P9 (6)

Tahukah kamu bahwa Sony Xperia Z5 Premium yang memiliki layar 4K itu kalau jalanin game di downscale jadi 1080p aja? Karena selain mengejar fps yang baik ketika menjalankan game. Android masih berjalan native di FullHD saja. Got the point kan sob?

Kamera Yang Tak Biasa

Ketika brand lain berlomba-lomba meningkatkan ukuran piksel, aperture, atau bahkan menambah aksesori untuk meningkatkan hasil kameranya. Huawei P9 menggunakan dua buah kamera 12Mp di belakang. Sebenarnya ini bukan kali pertama mereka melakukannya. Honor 6 plus juga menggunakan dual paralel kamera yang kurang lebih hampir sama. Saya pernah menggunakan Honor 6 Plus dan menurut saya konsep dual kamera ini memang memiliki kelebihan tersendiri. Namun di Huawei P9 sepertinya akan jauh lebih menarik.

Huawei P9 (7)

Kali ini Huawei bekerja sama dengan produsen kamera kenamaan yaitu Leica untuk mendesain kamera di Huawei P9. Di dunia fotografi, pabrikan asal Jerman ini memang sudah tidak asing di telinga. Menggunakan sistem dual kamera seketika menjadi masuk akal setelah mendengar penjelasan dari Huawei.

Huawei P9 (8)

Dual kamera yang digunakan terdiri dari satu kamera yang dilengkapi sensor RGB yang berfungsi untuk menangkap warna dan sensor Monochrome untuk menangkap kedalaman suatu gambar. Secara teori, menggabungkan keduanya akan menghasilkan gambar yang tak hanya memiliki warna yang vibrant, namun juga tajam.

Huawei P9 (9)

Mereka juga bilang akan menghasilkan gambar lowlight yang lebih bagus. But I don’t buy it. Karena sejauh yang saya lihat aperture yang digunakan masih f/2.2 dimana itu ngga terdengar spesial.

Auto Fokus Keroyokan

Kalo beberapa brand lain membanggakan smartphonenya menggunakan teknologi laser guided auto-focus, atau mungkin PDAF (Phase Detection AutoFocus). Huawei lebih memilih untuk menggunakan teknologi “Udahlah, pake semua aja, gitu aja koq repot”. Alhasil, Huawei P9 ini menggunakan teknologi autofokus keroyokan. Laser pake, Depth pake, Contrast pake.

Huawei P9 (10)

Tentu keputusan menggunakan teknologi Auto Fokus tersebut memiliki tujuan tersendiri. Laser Auto Fokus digunakan untuk mendeteksi fokus yang dekat. Sementara untuk fokus yang jauh menggunakan Depth Auto Focus. Biar ngebut fokusnya, Huawei P9 menggunakan Dedicated Depth ISP (Image Signal Processor)

Huawei P9 (11)Huawei P9 (12)Huawei P9 (13)

Ngga tau kenapa, semua terdengar masuk akal buat saya. Sepertinya Huawei P9 akan menjadi sesuatu yang menarik tahun ini.

One Million Dollar Question

Huawei P9 akan dijual di Eropa dalam dua versi, yakni versi RAM 3GB dengan memori internal 32GB (599 Euro), serta versi RAM 4GB dengan memori internal 64GB seharga (649 Euro). Sementara P9 Plus dengan RAM 4GB dan memori internal 64GB akan dibanderol dengan harga 749 Euro. Pertanyaan sejuta dolarnya adalah… Kapan masuk ke Indonesia? Belum ada informasi resmi, namun mari kita menganalisisnya.

Melihat kiprah Huawei Indonesia saat ini, saya sebenarnya sedikit skeptis. Huawei Nexus 6P tidak masuk ke Indonesia. Sementara flagship Huawei sebelumnya yaitu Huawei Mate S merupakan flagship yang tersunat kemampuan 4G dikarenakan TKDN. Jika kondisi ini belum juga berubah. Mungkin Indonesia akan kebagian Huawei P9 versi 32GB dengan kemampuan 3G. Semoga saja Huawei Indonesia dapat mengatasi tantangan TKDN ini.

Di sini dengan Mouldie dan … Mouldie Out (dikata Video kali :p)

Indahnya Berbagi...
Sarjana teknik lingkungan yg jatuh cinta dengan dunia gadget. 10% penjaga rumah 20% kritikus makanan 70% geek